Monday, May 19, 2008


MOCHTAR MOHAMAD (M2)

Waktu itu, masih duduk dibangku SMP Negeri Telaga, saat-saat menghadapi ujian sekolah kami selalu belajar kelompok bersama dari rumah teman yang satu ke rumah teman yang lainnya. Salah satu rumah tempat belajar Kelompok belajarku adalah rumahnya Utan (Mochtar Mohamad) di desa Tuladenggi Kecamatan Telaga. Aku masih ingat bagaimana ramah dan tulusnya ibunya menerima kami belajar bersama. Begitu pula dengan adiknya Rita dan Kakaknya Ulin. Di pagi hari setelah belajar Kami bermain bulu tangkis, kebetulan dirumahnya Utan ada lapangan bulu tangkis. Teman-teman yang belajar dirumah M2 ini yang Aku masih ingat, maklumlah sudah 29 tahun (1979) yang lalu seperti antara lain; Hais Nasibu (Almarhum), Thamrin Mootalu (Almarhum), Zadir Bouta, Jemi Wadipalapa, Abdullah Moha dan Suwandi Musa. Biasanya kenderaan yang kami gunakan ke desa Tuladenggi ini adalah sepeda, ada yang jenis turangga, Jengki dan ada juga jenis yang lain. Yang Aku kenang tentang M2 ini adalah pada mata pelajaran ketrampilan, dimana leter hurufnya sangat Aku kagumi, banyak variasinya dan menurutku sangat indah dipandang.

Disamping itu pula pada saat di SMP kami berdiskusi kelompok dibawah bimbingan guru Matematika Kami, Pak Haji Yudin Mustafa berpindah dari rumah teman yang satu ke rumah teman yang lain. Sehingga tercipta keakraban diantara teman-teman seangkatanku waktu sekolah di SMP negeri Telaga saat itu. Karena keakraban ini diantara laki dan wanitanya secara alamiah memang hal yang normal sudah mulai muncul yang namanya benih cinta tapi masih dalam bentuk cinta monyet. Aku juga mengalaminya dimana Aku tidak punya nyali mengungkapkannya (PD Ku saat itu sangat rendah) hanya mata dan hati yang berbicara. Teman-teman berdiskusi yang masih kuingat waktu itu seperti antara lain; Sri Anggreini Bowta, Selviana Ikano, Fajrah Eyato, Yenni Daud, Warda Kaluku, Rosna Yusuf, Fatmah Thalib, Rona Hippy, Ramona Mohamad, Noldi Ahmad, Ida Ngabito, Ulan, Amrain Puhi, Rustam Thalib, Halid Usu, Ridwan Lukum, Abdullah Moha, Marwan Jafar.

Takdir siapa menjadi apa di tangan Tuhan, tidak ada yang menyangka pada 30 tahun yang lalu kalau temanku Utan ini akan menjadi Walikota Bekasi Propinsi Jawa Barat (2008 – 2013), sebelumnya wakil Walikota Bekasi (2003 – 2008). Teman seangkatanku SMP negeri Telaga saat ini Utan lah yang paling tinggi Jabatannya. Padahal waktu sekolah di SMP dulu prestasinya Utan ini biasa-biasa saja, Tidak Seperti prestasinya Marwan Jafar, Jhon Rantepadang dan Aku sendiri yang selalu menjadi bintang kelas. Aku bercanda kepadanya kalau pendidikan Akulah yang paling tinggi, karena saat ini Aku sementara mengikuti pendidikan S3 (Doktor) Administrasi Publik di Universitas Negeri Makassar.

Utan ini dari SMP dulu bila berteman sangat baik dan tulus, mengikuti sifat ibunya. Bayangkan waktu aku membesuk ibunya di Rumah Sakit ibunya masih mengenaliku padahal sudah 30 tahun yang lalu Aku sudah tidak pernah bertemu Ibunya lagi, karena keterbatasan waktu dan pekerjaan. Demikian pula dengan Adiknya Rita dan Kakaknya Ulin. Aku dan teman-teman berdoa Semoga Ibundanya Utan segera sembuh. Amin.

Orang sering berkata apabila seseorang sudah berhasil, maka akan lupa kepada teman-temannya dulu, apabila bertemu tidak menegur, tersenyum saja tidak karena gengsi jabatan, kekayaan dan kekuasaannya akan berkurang. Hal ini tidak berlaku pada temanku yang satu ini yang kukatakan kepada teman-teman Utan itu berhati “Malaikat” . Walaupun Jabatannya sudah tinggi diantara kami, Dia tetap seperti Utan 30 tahun yang lalu, bercanda, bersenda gurau seperti tidak ada jarak antara kami dan dia. Memang sudah sepantasnya Tuhan memberinya jabatan yang tinggi. Aku dan teman-teman berdoa semoga prestasinya meningkat terus dimasa yang akan datang, menjadi Gubernur atau bahkan menjadi Menteri. Amin.

Yang berbeda dari Utan yang dulu 30 tahun yang lalu dengan yang sekarang adalah adalah berat badannya yang semakin bertambah. Aku dan teman-teman berharap agar berat badannya dikurangi dengan melakukan olah raga yang teratur dan melakukan diet yang ketat sehingga kesehatannya akan tetap terjaga dan bugar selalu dalam bekerja dan berkarya untuk kemaslahatan umat manusia. Kami teman-temanMu di Gorontalo selalu berdoa untukMu untuk prestasimu dan kesehatanmu. Kabulkan ya .. Allah. Amin.

Tuesday, January 15, 2008

MENGENANG DAN BELAJAR DARI PARA PAHLAWAN GORONTALO

Oleh : Yosef P. Koton

10 Nopember dikenang sebagai hari Pahlawan. Pada tanggal tersebut di Surabaya terjadi peristiwa heroik mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang sudah diproklamasikan Soekarno Hatta. Situasi dan kondisi serta permasalahan saat itu membutuhkan munculnya para pahlawan yang mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan bangsa yang dicintainya. Bukan saja di Indonesia telah melahirkan banyak para pahlawan tetapi di belahan dunia yang lain pun begitu banyak para pahlawan yang tercatat dalam sejarah.

Bagaimanakah dengan daerah kita sendiri di Provinsi Gorontalo? Adakah kita memiliki para Pahlawan yang telah tercatat dalam sejarah yang akan selalu dikenang oleh putera dan puteri daerah ini sepanjang masa? Ternyata 622 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1385, di daerah Provinsi Gorontalo, sebelum masa penjajahan bangsa Belanda berlangsung, sudah memiliki para Pahlawan yang berjuang memecahkan permasalahan yang muncul saat itu dalam rangka perubahan untuk kemajuan daerah Gorontalo saat itu dan buah hasil perjuangan para pahlawan tersebut masih terasakan hingga saat ini.

Pada masa daerah Gorontalo dimana pemerintahannya masih berbentuk kerajaan, tercatat dalam sejarah, dari sekian para Raja yang yang telah memerintah dikerajaan Gorontalo terdapat empat Raja yang sangat menonjol sumbangsihnya bagi kemajuan daerah Gorontalo dulu, saat ini dan yang akan datang yang dapat dikenang sebagai para pahlawan yang mempunyai karya dan jasa yang luar biasa dalam perubahan kemajuan pembangunan daerah ini dimana karyanya masih terasa dan berpengaruh hingga sekarang. Para Raja yang dikenang sebagai para Pahlawan yang dianugrahi gelar Ilomata Wopato yaitu sebagai berikut :

1. Raja Wadipalapa ( Tahun 1385 – 1427 )

Sumbangsih terbesar dari Raja ini yang memerintah kerajaan Gorontalo selama 42 tahun, terhadap kemajuan daerah ini karena Raja Wadipalapa dapat mempersatukan 17 kerajaan yang kecil-kecil yang ada di Gorontalo saat itu menjadi sebuah kerajaan yang lebih besar dan luas wilayahnya, sehingga menjadi tidak mudah bagi kerajaan yang ada di luar Gorontalo datang menyerang, menjajah dan memerintah daerah ini.

Dari perjuangan Raja Wadipalapa menunjukkan bahwa ternyata nilai inovasi sudah ditanamkan dan disemaikan Raja Wadipalapa di daerah serambih Medinah 622 tahun yang lalu. Kalau daerah ini ingin maju harus ada perubahan. Daerah ini bertahun-tahun yang lalu mempunyai 17 kerajaan yang kecil-kecil. Dengan tekad untuk kemajuan daerah dan nilai inovasi yang dimiliki dan diyakininya Raja Wadipalapa mempersatukan kerajaan yang kecil-kecil sehingga hanya menjadi satu kerajaan saja. Bisa dibayangkan bagaimana usaha dan kerja keras serta kecerdasan dari Raja Wadipalapa dalam meyakinkan 17 Raja yang kecil-kecil mengikuti pemikirannya untuk melepaskan dan mengorbankan tahta kekuasaannya, bersatu hingga menjadi hanya satu kerajaan saja.

Nilai keikhlasan, tidak rakus kekuasaan dan jabatan juga telah ditanamkan dan disemaikan di bumi Gorontalo 622 tahun yang lalu oleh ke 17 Raja yang melepaskan tahtanya demi nilai persatuan untuk kemajuan daerah ini pada saat itu dan yang akan datang. Ternyata untuk menanamkan dan menyemaikan nilai persatuan di daerah Gorontalo pengorbanan yang harus dilakukan oleh ke 17 Raja adalah sangat besar dan luar biasa.

Oleh sebab itu nilai persatuan yang sudah ditanamkan dan disemaikan 622 tahun yang lalu oleh Raja Wadipalapa dan 17 Raja yang kecil-kecil di daerah Gorontalo ini merupakan nilai warisan leluhur harus terus dipupuk, dibina agar tumbuh subur dihati putera-puteri Gorontalo saat ini dan yang akan datang. Demi kemajuan masyarakat dan pembangunan daerah Gorontalo, persatuan harus dikedepankan. Agar anggaran pembangunan dari pemerintah pusat bertambah besar dikucurkan ke daerah ini misalnya semua elemen masyarakat baik di dalam daerah maupun di luar daerah harus bersatu padu mendukungnya. Lupakan untuk sementara perbedaan yang ada demi anggaran dari luar daerah masuk kedalam daerah untuk kemajuan pembangunan daerah Gorontalo. Perbedaan biasanya terjadi karena dalam rangka efisiensi, efektifitas dan ketepatan sasaran yang dibidik. Kalau untuk kemajuan daerah nilai persatuan jangan dilanggar, nilai ini warisan leluhur, pamali kata orang-orang, kualat nanti akan mendapatkan kutukan dari para leluhur Gorontalo yang telah hidup beratus ratus tahun lalu.

Kalau ada persatuan bukan untuk kemajuan daerah Gorontalo, maksudnya terjadi penyelewengan hanya untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Hal ini bukanlah nilai yang diwariskan oleh para leluhur Gorontalo. Nilai ini harus dienyahkan dari bumi lo hulantalo dan pelakunya harus dikutuk kalau perlu dikutuk 7 generasi / turunan. Orang-orang seperti ini harus diasingkan keluar dari daerah Gorontalo ditempatkan dalam satu pulau tersediri sehingga mereka tidak akan dapat menularkan nilai-nilai kejahatan terhadap kemanusiaan. Kalau mereka ini dibiarkan bebas berkeliaran di daerah Gorontalo dikhawatirkan sikap dan perbuatan mereka ini dapat berakibat fatal merusak tatanan nilai yang sudah diwariskan para leluhur Gorontalo.

2. Sultan Matolodulakiki ( Tahun 1550 – 1580 )

Naik tahta 123 tahun kemudian setelah Raja Wadipalapa, Putera Sultan Amai, memerintah kerajaan Gorontalo selama 30 tahun, berhasil menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan yang diyakini seluruh rakyat. Syara’ bersendikan adat yang diformalkan oleh Sultan Amai diperbaharuinya menjadi adati hulo-huloo to syara’, syara’ hulo-huloo to adati (adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan adat).

Suatu usaha yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh dengan bekerja yang keras dan cerdas yang dilakukan Sultan Matolodulakiki sehingga menghasilkan suatu perubahan yang cukup signifikan dimana Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan. Sultan Matolodulakiki menanamkan dan menyemaikan nilai kerja keras dan cerdas serta istiqomah. Tak ada yang tak bisa dilakukan, semua akan nyata apabila kita mau bekerja keras dan cerdas serta kita betul-betul meyakininya. Melakukan sesuatu yang kita yakini benar jangan setengah-setengah, baru mendapatkan sedikit kritik langsung mopolee menyatakan mundur tidak mau melanjutkan lagi suatu ide yang sebenarnya briliant dan masuk akal. Para leluhur Gorontalo tidak pernah mewariskan sikap prokolol dan koprol. Para leluhur Gorontalo kalau sudah meyakini bahwa sesuatu benar adanya, maka segala daya upaya dikerahkannya untuk mewujudkan keyakinanannya tersebut tanpa tedeng aling-aling seperti kata orang-orang.

Nilai-nilai para leluhur inilah yang sudah dipraktekan secara berhasil oleh putera-puteri Gorontalo yang merantau keluar daerah. Orang Gorontalo kalau sudah berada diluar daerah selalu teringat dan memegang teguh nilai-nilai para leluhur dan biasanya mereka berhasil masing-masing dibidang yang ditekuninya dan menjadi sangat terkenal. Sebut saja antara lain B. J. Habibie ahli yang diatas bumi (pesawat) dan pernah menjadi Presiden. J. A. Katili ahli yang didalam bumi (Geologi). H. B. Jassin ahli bahasa dikenal sebagai Paus Sastera Indonesia. Rahmat Gobel dikenal sebagai pengusaha yang berhasil. Adhiyaksa Dault (Menteri Pemuda dan Olah Raga). Ciputera (Pengusaha). Ada juga yang berhasil karena beristerikan orang Gorontalo seperti Jenderal Wiranto (Menhankam, Pangab). Dan masih banyak lagi yang lainnya.

3. Raja Eyato ( Tahun 1673 – 1679 )

Naik tahta 93 tahun kemudian setelah Sultan Matolodulakiki, Dikenal sebagai diplomat ulung yang berhasil mendamaikan peperangan yang sudah berlangsung selama 187 tahun ( Tahun 1485 – 1672 ) antara kerajaan Gorontalo dan Kerajaan Limboto.

Suatu kinerja hasil yang sungguh luar biasa yang dicapai oleh Raja Eyato. Nilai integritas pribadi yang tinggi dan memegang teguh amanah serta berperilaku jujur dan low profil sehingga ke dua belah pihak yang berperang mempercayainya berhasil dtanamkan dan disemaikan untuk diwariskan kepada generasi putera puteri Gorontalo dimasa yang akan datang. Ternyata keahlian melobi pada pihak-pihak yang berperang sudah dipraktekan secara berhasil 334 tahun yang lalu oleh Raja Eyato. Tidak gampang mendamaikan pihak-pihak yang sudah berperang beratus tahun kecuali oleh orang yang memiliki kecakapan, kecerdasan diatas orang-orang yang normal dan dapat dipercayai oleh kedua belah pihak serta tidak memihak. Mempunyai wawasan yang luas terhadap permasalahan yang sedang dihadapi dan memberikan alternatif pemecahan masalah yang berdaya guna dan berhasil guna. Raja Eyato bekerja dengan target dan sasaran yang jelas. Sasaran ditentukan lebih dahulu baru kemudian memanah sasaran tersebut. Bukan dengan memanah lebih dahulu kesembarang tempat tanpa sasaran yang jelas kemudian tempat dimana panah menancap dilingkari bahwa inilah sasaran yang hendak saya bidik tanpa melakukan suatu usaha yang terencana dan terprogram secara sistematis, bo prokolol.

4. Sultan Botutihe ( tahun 1728 – 1755 )

Naik tahta 49 tahun kemudian setelah Raja Eyato. Memerintah Kerajaan Gorontalo selama 27 tahun. Sultan Botutihe berhasil membangun dan menata Kota Gorontalo sehingga pembangunannya berkembang dengan pesat. Ibukota kerajaan yang tadinya terletak di desa penulis, di desa Hulawa, dipindahkan ke desa Tuladenggi, kecamatan Dungingi dan akhirnya dipindahkan lagi ke ibukota Kota Gorontalo saat ini.

Nilai kesejahteraan masyarakat ditanamkan dan disemaikan agar tumbuh subur di daerah Du luwo limo lo pohalaa sebagai warisan untuk putera-puteri generasi Gorontalo yang akan datang. Sultan menyadari bahwa kalau kekuasaan tidak digunakan untuk kesejahteraan masyarakat maka kekuasaan yang dimilikinya tidak akan bermanfaat dan tidak akan berarti apa-apa bagi kehidupan rakyat. Oleh karena itu rakyat diberdayakannya sesuai dengan potensi yang dimiliki rakyat sehingga dalam membangun ada partisipasi dari rakyat. Dengan demikian rakyat merasa memiliki apa yang sudah dibangun tersebut. Hasilnya kemajuan pembangunan kerajaan saat itu sungguh dahsyat, luar biasa.

Sejak Bangsa Belanda masuk dengan persejataannya yang modern yang sangat sulit ditaklukan oleh para Raja Gorontalo dan Limboto maka dimulailah era penjajahan Belanda di Gorontalo (Tahun 1667 – 1942 ). Para Raja yang menentang kekuasaan Belanda di asingkan ke luar daerah. Sistem kerajaan di non aktifkan dan digantikan dengan sistem pemerintahan otoriter Belanda yang berkuasa di daerah Gorontalo selama 275 tahun ( 4 generasi/turunan )

Kekuasaan Belanda di Gorontalo selama 275 tahun berhasil diakhiri, dihentikan pada tanggal 23 Januari 1942 oleh para pahlawan pada waktu itu, dibawah pimpinan Pak Nani Wartabone, Kusno Danupoyo dkk.

Nilai keberanian dan ketepatan waktu bertindak berhasil ditanamkan dan disemaikan agar tumbuh subur dibumi lo hulantalo oleh Pak Nani dkk untuk diwariskan kepada generasi penerus. Bisa dibayangkan bila para Pahlawan ini terlambat bertindak pada waktu itu maka terjadilah tindakan Belanda membumi hanguskan bangunan infrastruktur yang sudah dimiliki daerah Gorontalo pada waktu itu.

59 tahun kemudian setelah perjuangan Pak Nani Wartabone dkk, Pada tanggal 16 Pebruari 2001 Gorontalo berhasil menjadi daerah otonom berdiri sendiri menjadi sebuah Provinsi ke 32 RI dibawah pimpinan Pak Nelson Pomalingo, Natsir Moodoeto dkk.

Nilai semangat kemandirian untuk memicu percepatan ketertinggalan pembangunan berhasil ditanamkan dan disemaikan untuk diwariskan kepada para generasi penerus cita-cita perjuangan para pahlawan Gorontalo. Daerah Gorontalo adalah terlahir dari para leluhur yang terhormat, bermartabat, berjiwa pejuang berpikiran maju kedepan untuk perubahan kearah kemajuan daerah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa diskriminasi dan eksploitasi dengan mengorbankan kemerdekaan dan kebebasan untuk berekspresi dan exis dari pihak-pihak lain dalam mengarungi kehidupan duniawi sebagai persiapan menuju dunia ukhrawi.

Orang-orang yang kurang beruntung dalam mengarungi kehidupan harus dibantu, ketertinggalan dalam berbagai segi kehidupan harus diperangi. Kerusakan alam harus dicegah demi kehidupan generasi Gorontalo dimasa yang akan datang. Semua itu akan dapat diwujudkan apabila kita hidup dalam alam kemandirian sebagai sebuah daerah yang otonom.

Mengenang dan belajar dari para Pahlawan Gorontalo sangat mengasyikan dan menarik, pengorbanan dan perubahan besar-besaran yang sudah mereka lakukan untuk kemajuan daerah Gorontalo sehingga tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Gorontalo diraihnya karena mendapatkan dukungan dari segala lapisan masyarakat Gorontalo. Para Pahlawan tahu bagaimana memicu timbulnya partisipasi masyarakat dan memberdayakan masyarakat sehingga tujuan mencapai perubahan yang diinginkan para Pahlawan sangat mudah diraihnya. Sangat mencengangkan lagi kesuksesan para Pahlawan ini tidak diikuti dengan pembiayaan anggaran yang besar-besar.

Contoh penerapan ilmu dari nilai yang diwariskan para Pahlawan ini pernah diterapkan oleh Pak Martin Liputo, mantan Bupati Gorontalo dalam membangun Stadion olah raga 23 Januari Telaga. Semua orang tahu pada saat itu bagaimana pelitnya pemerintah Propinsi Sulut mengucurkan anggaran ke daerah Gorontalo. Dengan memberdayakan segenap lapisan masyarakat Kabupaten Gorontalo pada waktu itu, maka Stadion olah raga termegah sesudah stadion Matoangin Makassar pada saat itu terbagun dalam waktu sekejap. Seluruh Kecamatan di Kabupaten Gorontalo mendapatkan jatah sekian meter didalam membangun Stadion. Maka para camat datang membangun dengan partisipasi dari para tukang batunya. Untuk penanaman rumput dilapangan diharapkan partisipasi dari para siswa se Kecamatan telaga. Kebetulan penulis sendiri pada saat itu, siswa SDN 1 Bulila Telaga dan mendapatkan jatah partisipasi membawa rumput seukuran 20 x 20 Cm untuk ditanamakan di Stadion Kebanggaan Gorontalo tersebut. Oleh karena itu setiap ada pertandingan bola kaki, Persigo maupun Persidago berlaga di Stadion tersebut penulis akan selalu datang menyaksikannya sambil membuka lembaran memori, mengingat-ingat kira-kira rumput yang dibawa penulis dulu itu ditanam disebelah mana yaaa…… ?

Saat ini permasalahan utama daerah kita Gorontalo adalah masih tingginya penduduk miskin yang harus dimerdekakan, Banjir yang setiap tahun melanda daerah Gorontalo dan Danau Limboto yang setiap hari airnya makin menyusut. Solusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut janganlah terlalu mengandalkan banyaknya anggaran untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Tetapi tengoklah kembali kepada sejarah dari nilai-nilai yang sudah dtanamkan dan disemaikan oleh para Pahlawan putera-puteri leluhur Gororatalo sejak 622 tahun yang lalu (tahun 1385) oleh Raja Wadipalapa, yang dilanjutkan oleh Sultan Matolodulakiki,, Raja Eyato, Sultan Botutihe, Pak Nani Wartabone dkk sampai dengan Pak Nelson Pomalingo dkk. Para pahlawan ini dalam melahirkan karya yang besar untuk kemajuan daerah Gorontalo tidak terlalu menitik beratkan pada jumlah anggaran yang besar tetapi lebih kepada pemberdayaan masyarakat yang merangsang timbulnya partisipasi segenap masyarakat yang melahirkan revolusi dan dapat menuntaskan permasalahan yang dihadapi masyarakat Gorontalo saat itu.

Sudah 6 tahun yang lalu sejak Provinsi Gorontalo terbentuk (tahun 2001) Apakah akan lahir kembali pahlawan yang sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat Gorontalo dalam mengenyahkan kemiskinan, banjir dan melestarikan Danau Limboto seperti abadinya nyanyian to bulalo lo limutu… tahi ta eya tobulotu…. taluhu he inda indawa…… dimana penulis masih siswa SD sering menyanyikanya. Ataukah yang muncul adalah para pecundang yang oportunis, mengumpul-ngumpulkan harta kekayaan, haus kekuasaan dan jabatan dimana nanti namanya tak akan pernah tercatat dalam sejarah Gorontalo sebagai pahlawan yang mempunyai karya besar yang bermanfaat bagi masyarakat Gorontalo?

Pada Hari Pahlawan 10 Nopember, mari kita menundukan kepala sejenak, megheningkan cipta mengenang jasa para pahlawan putera-puteri Gorontalo. Belajar dan mewarisi nilai-nilai yang sudah ditanamkan dan disemaikan untuk selalu dipupuk agar tetap tumbuh subur di daerah tercinta bumi lo hulontalo. Jangan kecewakan para leluhur yang telah berjuang dengan usaha yang keras dan cerdas memajukan daerah Gorontalo tercinta. Lanjutkan perjuangannya, buktikan bahwa kita sebagai generasi penerusnya mampu menjaga amanah yang sudah dititipkan kepundak kita untuk membangun, memajukan masyarakat dan daerah Gorontalo sesuai dengan nilai-nilai yang sudah diwariskan. Mari kita menengok sejenak ke belakang, mengenang jasa-jasa para pahlawan, mempelajari dan merenungkan kembali nilai-nilai kepahalawan mereka. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa para Pahlawan seperti yang tertulis di Taman Makam Pahlawan Pentadio yang kita baca saat kita melewati tempat tersebut. .

Ketua Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup AP3G

(Aktifis Pembentukan dan Pengawal Provinsi Gorontalo), Mahasiswa S3 Administrasi Publik Universitas Negeri Makassar Kerjasama dengan UNG

Tulisan ini dimuat di Harian Gorontalo Post, pada tanggal 8 – 12 Nopember 2007

Friday, April 13, 2007

MENGHADIRI RAPAT IKKF

Setiap bulan, pada Minggu ke-2 anggota IKKF (Ikatan Kerukunan Keluarga Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor)) bertemu dalam arisan yang dilaksanakan rutin setiap bulan pada setiap keluarga yang mendapatkan arisan.

IKKF ini didirikan pada bulan Oktober 2005 sebagai wadah yang beranggotakan masyarakat NTT asli maupun keturunan yang berdomisili di Provinsi Gorontalo. Saat ini jumlah anggota IKKF sudah berjumlah +_ 60 KK.

Aku masih ingat dulu waktu Aku masih sekolah di SD, SMP, SMA dirumahKu sering kedatangan tamu dari NTT ini. Waktu itu belum dibentuk organisasinya sehingga antara orang-orang NTT sering cari mencari tidak saling kenal mengenal satu sama lainnya.

Aku sering menyarankan ke AyahKu agar dibentuk Kerukunan Keluarga NTT ini. Alhamdullilah saranKu ini terlaksana nanti pada tahun 2005.

Aku sendiri sudah merupakan keturunan NTT di mana ayahKu berasal dari Flores dan Ibuku berdarah asli Gorontalo. Aku sendiri hingga saat ini belum pernah ke Flores. Aku lahir dan besar di Gorontalo.

Anggota IKKF ini antara lain berprofesi PNS pusat yang ditugaskan ke daerah ini seperti Anggota Polisi, Anggota Tentara, PNS Kanwil Agama, PNS Kanwil BKKBN, PNS Dolog, Karyawan Bank, ada juga Guru, Pekerja Swasta dan juga Wiraswasta.

Pada tanggal 14 januari 2007 arisan dilaksanakan dirumah Pak Rahmat di Kompi Markas 713 di Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru.

Karena Ketua Umum barhalangan hadir maka Aku sebagai Ketua I dimintakan untuk mewakili memberikan sambutan.

Pada intinya Aku sampaikan bahwa pertemuan setiap bulan ini diharapkan akan terjalin tali silahturahim yang semakin kuat antara anggota yang satu dengan yang lainnya sehingga menimbulkan rasa senasib sepenanggungan yang akan melahirkan sikap bantu membantu antar sesama.

Pengurus IKKF agar segera mengurus Akta Notaris sehingga organisasi IKKF ini dapat didaftarkan pada Pemerintah dan ini akan memudahkan IKKF dalam melakukan aktifitasnya dan berhubungan dengan pihak ketiga.

Arisan bulan depan pada tanggal 11 Pebruary 2007 diputuskan akan dilaksanakan dirumah Pak Kristian Lema di Desa Pilohayanga Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo.

Tuesday, January 30, 2007

MENGHADIRI REUNI ALUMNI SDN I BULILA TELAGA

Hari Kamis siang tanggal 14 desember 2006, Aku mendapatkan telpon dari Fajrah ( Iwa ) temanKu waktu sekolah dulu di SD, SMP, dan SMA. Meminta tolong untuk buatkan surat undangan pertemuan Reuni alumni SDN I Bilila Telaga angkatan 1971. Aku dengan senang hati membuat suratnya karena Akupun pingin ketemu teman-teman Ku waktu sekolah di SD dulu.

Secara kebetulan hari Minggu 17 Desember 2006 pada jam yang sama 19.00 wita dimana pertemuan Reuni akan dilaksanakan. Aku mendapatkan 2 undangan pesta perkawinan. Aku dibuat bingung bagaimana solusinya, maka Aku putuskan satu pesta perkawinan tidak Aku hadiri, sedangkan yang satunya Aku hadiri pada pagi harinya dengan pemohonan maaf karena Aku akan menghadiri Reuni yang sangat langka dilakukan.

30 menit sebelum berangkat Aku sudah berkemas-kemas, Istriku Aku ajak tetapi karena anakKu yang kecil umur +_ 1,3 tahun tidak ada yang menjaganya, maka Aku sendirian yang berangkat.

Tiba ditempat pertemuan di rumah Frengki, wah rumahnya 2 tingkat. Teman-teman yang sudah hadir adalah Erni, Suharti, Warda, Yeni, Lince, Man dan frengki sendiri sedang bersenda gurau. Aku mengucapkan salam selanjutnya berjabat tangan. Senyum dan tawaKu tak habis-habisnya menanyakan kabar teman-teman yang sudah sekian lama tidak berjumpa +_ 31 tahun yang lalu. Melihat wajah teman-temanKu ini Aku menerawang mengingat kejadian yang telah Kami lalui bersama 31 tahun yang lalu. Memori 31 tahun yang lalu itu muncul sepintas tetapi tidak utuh lagi, hal ini akibat keterbatasan daya ingat otak yang sudah menua dimakan usia tetapi yang pasti tidak terlupakan adalah raut wajah teman-temanKu.

Selagi menunggu teman-teman yang lain Aku menelepon teman SD Kami, Moon yang saat sekarang ini beralamat di Bandung. Aku sampaikan bahwa saat ini Kami sedang bereuni di rumahnya frengki. Wah dia senang sekali teman-teman bergantian berbicara dengannya. Semua teman ingin berbicara dengannya tapi mengingat pulsa yang terbatas, maka HP aku offkan dan supaya Moon yang balik menelepon.

Tidak berapa lama kemudian yang lainnya mulai berdatangan, Jemi, Rustam, Tino, Bary, Jodi, Supratman, Amrain, Iwa dan Ibu Cici (guru kelas I Kami). Jemi mulai mengatakan Frengki bahwa mereka pernah masuk kedapur rumah Ibu Cici dan memakan makanan yang tersedia. Teman-teman yang lain mengiyakan dan menertawakan kejadian tersebut.

Kami menyadari bahwa masih banyak teman-teman sekelas yang belum sempat diantarkan undangan. Oleh karena itu diwaktu yang akan datang akan diinventarisir kembali untuk diundang pada pertemuan Reuni yang berikut.

Malam semakin larut teman-teman menginginkan agar acara formil disusun agenda acaranya. berupa sambutan-sambutan. Aku mengusulkan agar masing-masing menceritakan perjalanan hidup masing-masing teman setelah berpisah, tamat di SDN I Bulila. Tetapi yang lainnya kurang menyetujuinya.

Jemi yang berprofesi guru langsung mengambil alih menjadi MC dan membacakan susunan acara

Aku di daulat teman-teman untuk menyampaikan kesan dan pesan. Aku sampaikan bahwa acara Reuni ini sangatlah penting untuk mempererat tali silahturahim antara alumni dan dapat dijadikan wadah untuk saling bantu membantu dalam hal kebajikan. Teman-teman yang beruntung dan berlebihan dapat membantu teman yang kurang beruntung dan berkekurangan dalam menjalani kehidupan duniawi. Juga kedepan mungkin Reuni ini digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial dimasyarakat. Sebelumnya Aku kisahkan perjalanan hidupKu sejak berpisah dengan teman-teman di SD sampai dengan saat sekarang ini.

Acara selanjutnya sambutan dari Ibu Cici pada intinya beliau sangat senang dan bahagia bisa bertemu dengan Kami anak-anak didiknya yang dapat dikatakan berhasil ada yang jadi Guru, Dokter, Insinyur. Beliau sebagai mantan guru merasa bangga atas keberhasilan tersebut. Beliau berpesan pada Kami seandainya beliau dipanggil yang Maha Kuasa, maka beliau menyarankan Kami untuk datang melayat dan menyembayangkan jenazah beliau. Aku langsung bersuara bagaimana kalau kami yang duluan dipanggil Tuhan bu, beliau menjawab sama, pasti beliau akan datang melayat.

Kami murid SDN I Bulila masih beruntung, karena masih ada beberapa mantan guru kami yng masih sehat walafiat seperti Ibu Cici, Pak Ibrahim, Ibu Isa, Pak Domili, Pak Sanu dan yang lain masih di inventarisir. Mudah-mudahan pada pertemuan Reuni yang akan datang. Ibu / pak guru ini akan di undang.

Untuk Reuni berikutnya diputuskan akan dilaksanakan di rumahnya Iwa tetapi waktunya nanti akan dikoordinasikan kemudian.

Acara selanjutnya ramah tamah yang di pandu oleh tuan rumah, Frengki bersama isteri yang agenda acaranya adalah makan bersama.

Acara Reuni yang pertama SDN I Bulila ini diakhiri dengan foto bersama. Setelah itu masing-masing berjabatan tangan, pamitan pulang kembali ke rumah masing-masing. Menjalani hidup menurut versi masing-masing, semoga kehidupan Alumni SDN I Bulila diberkahi oleh yang Maha Besar Illahi. Amin

Wednesday, January 10, 2007

SPIRIT 23 JANUARI MEMICU PERCEPATAN
PEMBANGUNAN PROVINSI GORONTALO
Oleh : Yosef P. Koton


23 Januari 1942 adalah hari merdekanya daerah Gorontalo. Dibawah komando pejuang kemerdekaan waktu itu, Pak Nani Wartabone berhasil memerdekakan daerah Gorontalo dari penjajahan Belanda. Pak Nani dan kawan-kawan tak tahan melihat dan merasakan penderitaan yang dialami rakyat Gorontalo pada waktu itu, akibat penjajahan dan penzaliman yang dilakukan Belanda terhadap rakyat Gorontalo, dimana kekayaan alamnya dijarah untuk kemakmuran bangsa Belanda dan lebih menyedihkan lagi segala bangunan yang sudah terbangun akan dibumi hanguskan. Terdorong oleh situasi, kondisi, jiwa kebangsaan dan kedaerahan serta kerakyatan Pak Nani dengan beraninya tampil kedepan memimpin rakyat Gorontalo mengusir penjajah dari Bumi Serambi Medinah dan upaya yang dilakukan tersebut berhasil memerdekakan Gorontalo dari penjajahan bangsa Belanda pada 23 Januari 1942. 3 tahun kemudian, merdekanya daerah Gorontalo ini menjadi inspirator dan motivator Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta untuk memerdekakan keseluruhan bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa Belanda.

58 tahun kemudian tepatnya 23 Januari 2000, sejarah patriotik 23 Januari 1942 ini kembali terulang lagi di daerah Gorontalo, dimana Pak Nelson Pomalingo dengan inspirasi dan spirit patriotik yang telah dicontohkan Pak Nani Wartabone tampil dengan cerdas dan berani mendeklarasikan pembentukan Provinsi Gorontalo. Pak Nelson dan kawan-kawan tak tahan melihat dan merasakan ketidakadilan yang dialami daerah ini berpuluh-puluh tahun. Daerah Duluwo Limo Lo Pohalaa yang memiliki ½ luas Propinsi induk, tapi anggaran yang dikucurkan ke daerah ini tidak lebih dari Rp 75 Milyar. Pejabat yang berasal dari daerah Hulondhalo bisa dihitung dengan jari tangan dipemerintahan propinsi. Daerah ini bila ditinjau dari berbagai aspek benar-benar terbelakang. Oleh karena itu apabila tidak ada perubahan dengan revolusi membentuk provinsi baru terlepas dari induk, maka daerah ini sangat sulit untuk meraih kemajuan dan mengejar ketertinggalannya dari daerah-daerah yang sudah maju lainnya di Indonesia.

Penulis masih teringat bagaimana bersemangatnya Pak Nelson membawa Tim DPOD pusat berkunjung ke Pondok Posantren Alkhaerat Tilamuta untuk memperlihatkan kepada Tim bahwa daerah Gorontalo layak menjadi sebuah provinsi. Pak Nelson dan kawan-kawan dengan fasilitas seadanya berupaya mewujudkan mimpinya mendirikan Provinsi Gorontalo. Pak Nelson dan kawan-kawan tidak patah semangatnya walaupun ada orang-orang yang mencibir dan pesimis juga ada orang-orang yang tidak mau membantu dan mendukung perjuangan pembentukan Provinsi Gorontalo.

Perjuangan Pak Nelson dan kawan-kawan akhirnya berbuah manis dengan diketuknya Undang-undang pembentukan Provinsi Gorontalo di DPR pusat pada tanggal 22 Desember 2000. Keberhasilan terbentuknya Provinsi Gorontalo ini menyebabkan orang-orang yang tadinya mencibir dan tidak mau mendukung serta membantu perjuangan pembentukan Provinsi Gorontalo segera “bakoprol” untuk dapat ikut berkiprah membangun Provinsi Gorontalo yang dengan bersusah payah telah diperjuangkan tersebut..

6 tahun sudah usia Provinsi Gorontalo, semangat juang dan patriotik Pak Nelson dan kawan-kawan yang tulus tanpa pamrih mendirikan Provinsi Gorontalo masih sangat dibutuhkan untuk mengawal agar cita-cita awal tujuan pembentukan Provinsi Gorontalo ini tidak akan melenceng jauh atau menyerong dari visi dan misi serta target yang dicita-citakan para pejuang Provinsi Gorontalo dulu. Tidak dapat dipungkiri dalam 5 tahun ini terdapat kemajuan yang sudah dialami Provinsi Gorontalo tetapi tidak sedikit juga ada hal-hal yang perlu dikawal untuk dikritisi dan diluruskan agar cita-cita awal pembentukan Provinsi Gorontalo ini segera terwujud dan hasilnya dapat segera dinikmati oleh seluruh rakyat Gorontalo.

Setelah Provinsi Gorontalo terbentuk anggaran pembangunan yang masuk ke daerah Agropolitan Jagung ini cukup besar. Pada tahun 2006 ini sudah mencapai Rp 2,83 Trilyun. Dalam 5 tahun yang akan datang (2007 – 2012) anggaran yang akan masuk ke Provinsi Gorontalo diharapkan digunakan secara efisien dan efektif serta produktif. Uang yang akan masuk ini diupayakan berputar beberapa kali bahkan berpuluh-puluh kali dimasyarakat Serambih Medinah sebelum uang tersebut keluar dari Provinsi Gorontalo. Dengan demikian diharapkan akan terjadi multiflier efek yang cukup signifikan yang akan dapat mendorong pengurangan masyarakat miskin di Provinsi Gorontalo.

Uang yang telah masuk yang digunakan untuk membangun aset di Provinsi Gorontalo seperti; jalan, gedung, irigasi dan lain-lain diharapkan berkualitas nomor 1, sehingga berumur panjang berpuluh-puluh tahun. Dengan demikian akan menghindari pembangunan yang berulang-ulang, asal jadi yang tidak efisien dan berkesan memboros-memboroskan anggaran, menghabiskan anggaran. Contoh pembangunan aset yang tidak tahan lama ini adalah peningkatan jalan di muka Kantor Gubernur yang lama, dibangun pada tahun 2002, setelah 5 tahun kemudian 2007 ini pada jalan tersebut sudah muncul kerikil-kerikil dan berlubang-lubang. Kalau pada jalan ini dialokasikan lagi anggaran, maka ini sama artinya dengan pemborosan anggaran. Bila anggaran yang akan dialokasikan ini dimanfaatkan untuk kegiatan lain tentu manfaat yang akan diperoleh sangat nyata untuk mempercepat kemajuan pembangunan di Provinsi Gorontalo.

Dalam periode 5 tahun yang akan datang Provinsi Gorontalo harus terus berupaya agar uang yang masuk ke Provinsi Gorontalo ini semakin besar dengan jalan melakukan kegiatan-kegiatan yang akan menyebabkan orang di luar daerah berduyun-duyun berkunjung ke Provinsi Gorontalo. Dengan kunjungan ini diharapkan orang-orang yang berkunjung tersebut membelanjakan uangnya di Provinsi Gorontalo. Oleh karena itu barang-barang souvenir, kerajinan khas Gorontalo harus diperbanyak, ditata, dibina, dibimbing diberdayakan sehingga berkembang dengan baik dan pemasarannya dilokalisir disuatu tempat sehingga mudah dicari para pengunjung.

Obyek-obyek wisata agar dikelola secara entrepreneur dan profesional serta diperindah semenarik mungkin sehingga pengunjung tidak akan bosan-bosan datang untuk berkunjung ke Provinsi Gorontalo. Kegiatan rapat-rapat nasional diupayakan diselenggarakan di Provinsi Gorontalo. Demikian pula dengan kegiatan olahraga tingkat nasional, Sepakbola dan sebagainya, dimana semua kegiatan yang dilaksanakan akan berdampak pada berkunjungnya orang dari luar Provinsi Gorontalo dimana orang-orang tersebut akan berbelanja, mengeluarkan biaya hotel, biaya makan minum dan sebagainya di Provinsi Gorontalo, maka ini berarti uang yang berasal dari luar Provinsi Gorontalo telah masuk dan diharapkan uang tersebut berputar-putar untuk kegiatan investasi di daerah Agropolitan Jagung..

Uang yang sudah masuk di Provinsi Gorontalo diupayakan agar uang tersebut tidak langsung keluar dari daerah Provinsi Gorontalo. Oleh karena itu penyebab uang yang akan keluar dari Provinsi Gorontalo ini harus dicegah,. perjalanan dinas executif dan legislatif keluar daerah dibatasi hanya untuk hal-hal yang penting saja. Barang-barang yang selama ini dibeli di luar daerah dalam 5 tahun ke depan diupayakan untuk diproduksi sendiri di Provinsi Gorontalo. Dengan berputar-putarnya uang ini dalam kegiatan investasi di Provinsi Gorontalo, maka akan dapat menumbuhkan usaha-usaha yang riil (UKM) yang dilakukan masyarakat, sehingga ini akan berdampak nyata pada kenaikan pendapatan perkapita masyarakat Provinsi Gorontalo.

Dengan memperingati hari patriotik 23 Januari 2007 ini diharapkan dapat memicu semangat percepatan pelaksanaan pembangunan diberbagai bidang di Provinsi Gorontalo dalam lima tahun yang akan datang. Bukan hanya data-data statistik yang dinaik-naikan setiap tahun, tetapi kondisi riil masyarakat dan sumberdaya alam di lapangan juga harus terus diperbaiki. Masalah pengurangan mayarakat miskin, rusaknya hutan yang menyebabkan banjir dan surutnya air danau Limboto menunggu sentuhan tangan-tangan yang terampil dan berotak yang cerdas serta dengan semangat patriotik yang menggelora untuk dapat menuntaskan permasalahan yang urgen tersebut. Program dan kegiatan yang akan dilakukan bukan hanya selesai pada tataran penyusunan master plan, kajian, pengumpulan data-data statistik, seminar dan rapat-rapat yang tidak sedikit anggaran yang tersedot untuk kegiatan tersebut, tetapi untuk 5 tahun yang akan datang diupayakan program, kegiatan yang dilakukan sudah pada tataran implementasi, pelaksanaannya langsung sudah di tingkat lapangan atau sudah pada obyek yang menjadi sasaran, target dari kegiatan dan program yang dilakukan. didalam upaya mengentaskan masyarakat dari kemiskinan yang dideritanya, merehabilitasi hutan dan danau Limboto yang sudah rusak parah.

Selamat memperingati hari patriotik 23 Januari. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa para pahlawan dan para pejuangnya.

Ketua Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup AP3G
(Aktifis Pembentukan dan Pengawal Provinsi Gorontalo)
Alamat Website: www. yosefkoton.blogspot.com

Tulisan ini tanggal 23 - 24 Januari 2007, dimuat di Harian Gorontalo Post



Wednesday, December 13, 2006

MENGHADIRI PESTA PERKAWINAN DI TONDANO

Pada tanggal 8 Desember 2006, Aku dan teman-teman kantor berangkat menghadiri pesta perkawinan teman kantor kami yang dilangsungkan di Tondano. Untuk dapat sampai ke Tondano, kami harus mengendarai mobil selama kurang lebih 10 jam. Teman kantor yang akan menghadiri pesta perkawinan Pak Masran Rauf di Tondano ini kurang lebih 20 Orang dengan mengendarai 3 mobil. Agar Pak sopir tidak mengantuk maka dibuatlah cerita-cerita lucu yang membuat Pak sopir dan penumpang tertawa terbahak-bahak. Pokoknya ramai, enjoy selama dalam perjalanan dan sangat menyesal bagi teman-teman lainnya yang tidak ikut ke Tondano.

HasratKu dari awalnya memang menggebu-gebu untuk dapat menghadiri pesta di Tondano ini, karena 20 tahun yang lalu Aku pernah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Roong Tondano dan saat sekarang ini Aku ingin melihat lagi daerah tempat Aku berKKN dulu. Tetapi mengingat karena fisikKu yang akan sangat kelelahan bila mengendarai mobil dengan jarak yang sangat jauh dan juga karena Aku sudah diminta untuk memimpin rapat IKKF pada hari Minggu, 10 Desember 2006, maka Aku mulai pesimis untuk dapat pergi ke Tondano. Tetapi karena Pak Haji Remi sudah 3 kali menelpon dan meyakinkan Aku agar tetap harus berangkat ke Tondano dan mobil sudah menjemputKu di rumah maka tidak ada lagi keragu-raguan, Aku segera angkat koper berangkat ke Tondano.

Aku satu mobil dengan Pak Haji Remi yang bertindak sebagai sopir, Pak Menko AA Wisnu sebagai navigator dan dibelakang mereka berdua Opa Rustam, Aku dan Nona febi, serta dibangku yang lebih belakang mengawal kami adalah Kapten Iswan dan si Jangkung Kasim.

Kami berangkat dari Gorontalo, start dirumahnya AA Wisnu di Tenggela Kecamatan Telaga sesudah sholat Magrib, memasuki daerah Gorontalo Utara di Kecamatan Kwandang kami berhenti melaksanakan sholat Isya kemudian perjalanan dilanjutkan kembali. Tidak berapa lama kemudian setelah meninggalkan Kecamatan Atinggola Provinsi Gorontalo kami segera masuk ke daerah Bolaang Mongondow wilayah Sulawesi Utara.

Karena perut sudah keroncongan maka kami singgah makan di rumah makan Enjel 2 masih di wilayah Bolmong . Semua merasa puas dengan pelayanan dan makanan yang disajikan berupa ikan laut bakar dengan rica-rica yang pedas, gorengan dan kua asam. Untuk melepaskan kelelahan dari perjalanan yang sudah ditempuh, maka kami agak lama bersantai di rumah makan Enjel ini.

Kira-kira pada tengah malam kami start kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum memasuki Kota Manado kami sholat Shubuh di Kecamatan Tumpaan daerah Minahasa Selatan dan pada jam 06.00 pagi kami masuk untuk menginap di Hotel Jayakarta dekat sungai Kualajengki Manado. Sebelum masuk ke Hotel ini kami makan nasi kuning dulu. Satu mobil lainnya berpenumpang Ibu Sekretaris tidak menginap di Manado tetapi diutus untuk langsung ke Tondano memberitahukan bahwa rombongan sudah berada di Manado.

Aku dan teman-teman yang satu mobil masuk ke kamar langsung tidur, karena semalaman suntuk dalam perjalanan tidak tidur. Tetapi herannya ada juga teman-teman yang dimobil lainnya tidak tidur dan langsung berputar-putar di Kota Manado.

Pada siang hari setelah sholat Zhuhur kami menikmati makan siang di rumah makan Minang di pusat Kota Manado. Setelah makan siang kami kembali lagi ke Hotel untuk melanjutkan kembali tidur yang sempat terhenti akibat perut yang lapar. Bangun dari tidur, setelah sholat Magrib kami menuju warung sate untuk santap malam. Sesudah kekenyangan makan sate Opa Rustam mengutarakan maksudnya ingin melihat-lihat Boulevar, tetapi herannya sebelum sampai ke Boulevar Opa Rustam sudah tertidur pulas sehingga Pak Sopir memutuskan untuk langsung pulang ke Hotel untuk menidurkan Opa.

Hari minggu pagi, pukul 04.30 Wita Aku terjaga dari tidur malam yang panjang. Setelah sholat Shubuh Aku jalan pagi untuk menikmati, melihat-lihat Kota Manado dipagi hari. Langkah kakiKu ternyata menuju ke pasar bersehati Manado, menyeberangi sungai Kualajengki lewat jembatan kayu darurat, karena jembatan yang baru sementara dibangun.

Pagi hari ternyata pasar ini sudah ramai dengan penjual yang menjajakan barang dagangannya. Aku teringat Telpon isteriKu semalam dimana anakKu Arif meminta untuk dibelikan CD penyanyi Letto. Setelah Aku mendekati pelabuhan, ditepi laut Aku melihat penjual CD sedang menawarkan dagangannya. Aku mendekat dan menanyakan kalau ada CD Letto, ternyata ada. Aku membeli 2 keping CD Letto dan 2 CD lagi lagu anak-anak untuk anakKu yang bungsu, Sendy. Setelah itu Aku melanjutkan jalan pagiKu.

Di depan pelabuhan Aku melihat kapal yang sedang bersandar dan penumpang sementara turun. Aku teringat masa yang telah lewat 22 tahun yang lalu, tahun 1984 waktu Aku pertama kali ke Manado untuk menimba ilmu di Fakultas Pertanian UNSRAT Manado. Aku dan teman-teman berlayar dari pelabuhan Kwandang dan turun di pelabuhan manado ini. Waktu itu jalan darat belum bisa tembus ke Manado. Jadi satu-satunya kenderaan yang bisa digunakan ke Manado adalah dengan kapal laut. Aku masih teringat bagaimana kapal kami di goyang-goyang oleh ombak dan temanKu Imran muntah-muntah. Tapi Aku heran Aku tidak pernah muntah.

+_ 10 meter melewati pelabuhan Manado, Aku sudah sampai diujung jalan Boulevard. Kemegahan Mall berjejer menjulang tinggi sepanjang jalan ini. Aku kembali teringat 20 tahun yang lalu, sepanjang jalan Boulevard ini adalah pantai Manado, dimana pada hari minggu dan libur Aku dan temanKu Slamet mandi di pantai Manado ini. Kini pantai sudah tidak ada lagi sudah ditimbun dengan batu-batu dan sirtu kemudian dibangun Mall. Diujung jalan ini Aku tersentak kaget melihat matahari sudah menampakkan wajahnya mengingatkan Aku agar segera kembali ke Hotel untuk bersiap-siap berangkat ke Tondano. Pada saat Aku pulang Aku mengambil jalan yang tidak Kulewati tadi.

Di jalan ini Aku ketemu pedagang kaki lima yang disebut Uti-uti, warga Gorontalo perantauan dari daerahKu. Dulu 20 tahun yang lalu seingatKu mereka berjualan dipinggiran toko di taman kota Pasar 45 depan Bioskop Presiden. Tetapi saat ini mereka sudah digusur dan sekarang mereka berjualan disepanjang jalan ini. Aku membeli 2 potong celana untuk AnakKu yang sulung, Arif dan 2 potong stelan kemeja celana untuk Adiknya Sendy.

Setiba di hotel Aku heran melihat si Arter masih tertidur pulas. Untuk mengeringkan keringat, sebelum Aku mandi, Aku menghidupkan dan menonton berita TV. Tiba-tiba Pak Ismail membuka pintu kamar dan menyuruhKu untuk bersiap-siap berangkat ke Tondano. Aku lihat Pak Ismail sudah berbaju batik siap untuk berangkat.

Akupun segera mandi dan berbaju batik, pakaian yang sudah disiapkan IsteriKu yang akan dipakai ke pesta perkawinan. Arter Aku bangunkan supaya dia juga bersiap-siap untuk segera berangkat.

Setelah itu Aku keluar kamar mengetuk kamar depan kamarKu. Di kamar ini dihuni Pak Haji Remi, Menko AA Wisnu dan Opa Rustam. AA Wisnu begitu Aku beritahukan akan berangkat langsung ke kamar mandi. Opa Rustam yang belum mau mandi dengan alasan menunggu dulu Pak Haji yang keluar hotel melakukan negosiasi bisnis otomotifnya. Ternyata Pak Haji ke Tondano ini ada maksud sampingannya yaitu untuk bisnis otomotif. Aku tersadar, kenapa Pak Haji ini ngotot untuk berangkat ke Tondano dan hingga 3 kali menelponKu agar jangan sampai tidak jadi berangkat bersama-sama ke Tondano.

Setelah dari kamar Opa Rustam, Aku turun ke loby hotel bersama koper bawaanKu, disana sudah ketemukan teman-teman yang lain yang sudah siap-siap untuk berangkat, terutama ibu-ibunya yang sudah berdandan. Ibu Tiya meminta agar momen ini diabadikan dengan potret bersama. Karena ibu-ibu yang satu mobil sudah lengkap semuanya maka mereka segera berangkat lebih dulu ke Tondano.

Aku yang satu mobil dengan Pak Haji masih menunggu pak haji yang masih berbisnis. Aku berusaha menghubunginya dengan menelpon, tapi heran HP nya tidak aktif, +_ pukul 10.00 pak haji nongol, lumayan juga lamanya menunggu pak haji +_ 2 jam. Setelah barang-barangnya pak haji masuk ke mobil kami segera berangkat.

+_ 15 menit setelah berangkat ternyata urusan bisnisnya pak haji ini belum selesai. Sambil menunggu teman bisnisnya pak haji, dikomandai pak Menko kami masuk ke supermarket dekat lapangan Tikala membeli makanan ringan yang akan disantap selama dalam perjalanan. Makanan ringan paforitKu yang suka Kusantap adalah kacang bersama minuman susu dos. Pak Menko merasa heran kenapa makanan dan minuman itu yang menjadi kesukaanKu, bukan yang lainnya, jawabannya ternyata mudah sebab kalau yang lainnya Aku akan sakit perut.

Setelah kembali ke mobil dari Supermarket kami segera berangkat, memasuki daerah Karombasan memori diotakKu mulai bangkit mengingat bahwa 20 tahun yang lalu jalan ini pernah Kulalui, pada saat-saat Aku masih pada semester 1 dan 2 pada tahun 1984 dan 1985 pada Fakultas Pertanian Unsrat Manado, dimana kami sering melakukan praktek di lapangan maupun pada semester selanjutnya melakukan penelitian dan KKN. Kebetulan lokasi Aku KKN adalah di desa Roong Tondano berdekatan dengan tempat pesta yang akan kami hadiri.

Tiba di Pineleng Aku kembali teringat masa lalu dimana beberapa kali Aku ke tempat ini menemui sepupuKu Ubaldus, untuk mengetik tugas praktikum karena dia memiliki mesin ketik.

Sepanjang jalan dalam perjalanan yang kami lalui tumbuh tanaman pepohonan baik diperbukitan maupun pada jurang/lembah, keadaanya masih yang seperti yang dulu 20 tahun yang lalu. Sebagian besar pohon yang tumbuh adalah cengkih ada juga pohon kelapa. Oleh karena banyak tumbuh pepohonan baik dibukit maupun di lereng gunung menyebabkan tingkat erosi didaerah ini sangat kecil sehingga banjir dan longsor sangat jarang terjadi. Hal ini berimbas pula pada keadaan danau Tondano yang keadaannya masih lebih baik bila dibandingkan dengan Danau Limboto di daerahKu.

Melihat rindangnya pepohonan sepanjang jalan ini Aku teringat dengan Jalan Trans Sulawesi dari Kecamatan Isimu sampai dengan Tilamuta di daerahKu dimana perbukitannya yang gundul sehingga erosinya tinggi dan sering banjir, sekiranya sepanjang jalan Trans Sulawesi ini dapat dirindangkan dengan pepohonan yang berguna seperti kemiri yang cocok untuk iklim yang panas, maka akan dapat menolong mencegah banjir dan erosi yang sering terjadi.

Semakin kami dekat dengan kota Tondano udara semakin dingin karena jalan yang kami laluipun semakin menanjak menaiki daerah perbukitan. Tanpa disadari, kami sudah melewati Kota Tomohon yang udaranya sejuk. Sudah banyak bangunan yang baru berdiri di kota ini. Bunga-bunga dari berbagai jenis hidup subur di kota ini. Aku saat semester akhir melakukan penelitian di Kota ini dan beberapa kali kami melakukan praktek lapangan di kota yang sejuk ini.

+_ Pukul 12.00 Wita kami sampai juga di Tondano. Sebelum sampai ke Kampung Jawa, kami melewati Desa Roong, lokasi aku ber KKN dulu 22 tahun yang lalu. Aku menerawang teringat teman-temanku ber KKN dulu. Kami 8 orang mahasiswa dari 4 Fakultas yang berbeda ditempatkan di desa ini. Aku teringat pada Femi dari Fakultas Kedokteran, tidak tahu Ibu Dokter ini berada dimana sekarang? Dokter Farid Dunggio juga dari Kedokteran, Imran Buna ada di Gorontalo dan 4 teman yang lainnya yakni 2 dari Fakultas Ekonomi dan 2 dari Fakultas Peternakan.

Lewat Desa Roong yang sudah memandu ke lokasi perkawinan adalah si Jangkung Kasim, karena kemarin dengan mobil ibu Sekretaris, Kasim sudah mengunjungi lokasi perkawinan yang akan kami hadiri ini. Tetapi Kami merasa heran cara Kasim memandu, nanti mobil sudah lewat dibelokan baru dia beritahu kalau mobil harus belok.

Tiba dirumah pengantin Puteri, kami langsung masuk, tamu sudah banyak yang hadir. Teman-teman di 2 mobil lainnya sudah duduk manis, begitu melihat kami mereka tersenyum-senyum. Tidak lama kemudian acara perkawinan dimulai dengan sambutan Kepala Desa, kemudian nasehat perkawinan dari mantan Kepala KUA setelah itu dilanjutkan dengan acara ramah tamah, makan bersama.

Pengantin pria ganteng dan perempuannya cantik duduk dengan anggunnya seperti Raja dan Ratu. Terdapat 2 layar lebar disisi kanan dan kiri yang mempertontonkan gambar kedua pengantin baik gambar saat ini maupun gambar sebelumnya. Dimana kedua pasangan sejoli ini sedang naik sepeda berwisata ke danau Tondano.

Setelah acara pesta pertama ini selesai akan dilanjutkan dengan resepsi. Aku dan teman-teman pamit sebentar untuk sholat Zhuhur di Masjid Jami Kampung Jawa. Pada saat memasuki mesjid ini pikiranKu kembali menerawang 20 tahun yang lalu dimana Aku pernah melaksanakan sholat di mesjid ini, tapi mesjidnya sekarang ini sudah berubah menjadi lebih bagus dan luas dari yang dulu.

Pada saat resepsi turun hujan, ini pertanda pasangan pengantin ini akan dikarunia banyak anak, ini perkataan orang-orang tua dulu, seandainya pasangan pengantin ini tidak ber KB. Setelah acara resepsi selesai kami pamitan pulang kepada pasangan pengantin dan keluarga tetapi sebelumnya berfoto bersama pengantin dulu.

Pulang ke Gorontalo kami mengambil jalan pintas lewat Kecamatan Kawangkoan yang dikenal dengan komoditi unggulannya kacang Kawangkoan. Dalam perjalanan pulang ini di daerah Bolmong kami membeli rambutan dan salak untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

Dalam perjalanan pulang ini, Kami kembali singgah makan malam di rumah makan engela. Setelah makan perjalanan kembali dilanjutkan. Pak Haji sopir kami ini tidak senang melihat Aku tertidur. Kalau Aku sudah mulai diam untuk tidur, kaca jendela mobil didekat kepalaKu dibukanya sehingga dengan tiba-tiba angin masuk dan Aku terjaga untuk menemani dia tidak tidur. Nyawa kami tergantung pak haji ini, Oleh karena itu agar Pak haji tidak mengantuk tertidur sementara menyopir, maka daun telinganya aku colek "kuti" dan dia terkaget-kaget.

Pukul 03.00 pagi Aku tiba di rumah. Aku merasa heran karena aku tidak merasa kelelahan. Biasanya kalau Aku mengadakan perjalanan dengan mobil begitu tiba tubuhKu terasa lemas, capek. Tetapi sekarang tidak. Apakah karena ada jaminan konsumsi yang memuaskan dari Pak Menko AA Wisnu. Ataukah karena situasi yang penuh canda dan tawa yang tercipta selama dalam perjalanan didalam mobil ? Wallahu alam bi sawab.

Selamat bagi Pak Masran semoga menjadi keluarga yang sakinah ma wadah wa rahmah. Perkawinan yang langgeng, tahan lama dan lengket terus hingga menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek.

Tuesday, November 28, 2006

MEMANTAU PEMILU DI DESA IPILO KECAMATAN ATINGGOLA

Pada tanggal 26 - 27 Nopember 2006 Aku mendapatkan tugas untuk memantau pelaksanaan pemilihan langsung Gubernur Gorontalo 2006 - 2011 di Desa Ipilo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo. Desa tersebut tidak terletak di Jalan Trans Sulawesi tetapi belok kanan masuk kedalam kurang lebih 5 Km melewati 1 desa baru ketemu desa ini. Desa ini terletak diantara 2 gunung yang mengelilinginya, disebelah ujung gunung sudah berbatasan dengan kecamatan Limboto. Pencari rotan biasanya membawa rotannya ke Kecamatan Limboto melewati jalan pintas ini, demikian yang dituturkan Kepala BPD Desa Ipilo yang namanya tidak sempat saya tanyakan.

KesanKu terhadap desa ini, aman dan damai jauh dari keributan dan kebisingan seperti diperkotaan, cocok untuk tempat peristirahatan. Didesa ini terdapat lahan seluas 100 Ha yang ditanami Jagung juga terdapat lahan yang ditanami padi dan juga banyak pohon Kelapa. Jumlah penduduknya kurang lebih 1000 orang atau sebanyak 375 Kepala Keluarga (KK). Mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah bertani. Didesa ini pada tahun 2002 mendapatkan bantuan Sapi sebanyak 50 ekor dari kegiatan PUTKATI kepada 25 KK dimana setiap KK mendapatkan 2 ekor. Ketika Aku menanyakan perkembangan jumlah sapi bantuan ini kepada Ibunda Kepala Desa Husna Badjuri, beliau tidak tahu pasti tetapi sapi tersebut jumlahnya saat ini sudah lebih banyak dari bantuan sebelumnya. Saat ini di desa Ipilo mendapatkan bantuan benih Jagung sebanyak 1365 Kg dari Dinas Pertanian tetapi benih tersebut masih di Balai Desa dan belum dibagikan ke Petani. Pembagiannya ke Petani akan dilakukan setelah pelaksanaan PILGUB.

Saat ini pada tahun 2006 ini di Desa Ipilo sedang dibangun jalan desa sepanjang kurang lebih 5 Km oleh CV. Yolanda dari anggaran APBD I Provinsi Gorontalo, tetapi pengerjaannya tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Pasir dan bebatuan yang ditimbun dijalan ini semestinya dipadatkan (ditindis) tetapi ini tidak dilakukan, 2 gugusan yang dibuat, yang satunya begitu digunakan rusak dan yang satunya lagi saat ini belum berfungsi. Mohon Pak ini agar diteruskan keatas untuk ditindaklanjuti agar diperbaiki demikian permintaan Ibunda kepadaKu.

Banyak permintaan Ibunda yang disampaikan kepadaKu untuk membangun desanya yang masih tertinggal dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Atinggola dimana kegiatan yang dimintakan tersebut sangat dibutuhkan masyarakatnya. Oleh karena itu dimohonkan agar segera direalisasikan. Kegiatan tersebut antara lain :
1. Peningkatan jalan desa (pengaspalan) sepanjang kurang lebih 5 Km.
2. Pemasangan Listrik sepanjang +_ 5 Km
3. Pembangunan Kantor Desa
4. Pembangunan Polindes
5. Pembangunan rumah Layak Huni sebanyak 125 KK
6. Pembangunan PUSTU

Pelaksanaan Pemungutan suara di Desa ini berjalan aman dan lancar. Disekitar TPS 2 sudah dibangun warung-warung makan dadakan. Apabila setiap pemilih membelanjakan uangnya sebanyak Rp 5.000 maka uang yang beredar di TPS 2 sebanyak _+ Rp 2 Juta yang diperoleh pemilik warung-warung ini demikian yang disampaikan Kepala BPD. Jumlah pemilih di desa ini sebanyak 800 orang, yang menggunakan hak pilihnya sebanyak 722 Orang (90,25 %) sedangkan yang tidak menggunakan hak pilihnya sebanyak 78 Orang (9,75 %). Jumlah suara rusak 3 orang (0,41 %) dan jumlah suara yang sah 719 orang (99,59 %). Hasil akhir pemungutan suara di desa Ipilo untuk nomor 1 pasangan calon Gubernur Ir. H. Fadel Mohamad dan Ir. Gusnar Ismail, MM memperoleh sebanyak 679 suara (94,04 %). sedangkan nomor 2 pasangan Drs. H. Thamrin Djafar dan Drs. A.D. Khaly memperoleh sebanyak 29 suara (4,02 %) dan nomor 3 pasangan Ir. Bonny M.M. Ointu, MSc dan Ir. H. Hamid Kuna memperoleh suara sebanyak 11 suara (1,52 %)

Wednesday, November 22, 2006

MENGHADIRI RAPAT KOMITE SDN INPRES HULAWA

Pada hari Jumat 17 Nopember 2006, Aku mendapatkan undangan dari SDN Inpres Hulawa untuk mengikuti rapat untuk penyegaran komite sekolah. Dalam sambutannya Kepala Sekolah menyampaikan bahwa daya tampung ruang kelas tidak sebanding lagi dengan jumlah murid dimana ruang kelas hanya 6 unit sedangkan jumlah murid membutuhkan 9 unit kelas. Pemecahan masalah kurangnya ruang kelas ini menurut Kepala Sekolah dilakukan dengan pergantian ruang kelas dimana kelebihan 3 kelas ini pembelajarannya menunggu berakhirnya pembelajaran 6 unit kelas sebelumnya.

Menurut Ketua Komite yang baru, Bapak Drs. Oscar Ladiku, Sekolah ini tampak dari luar sekolahnya kelihatan baru, tetapi begitu masuk kedalam sekolahnya nampak tua dan rapuh yang memerlukan perbaikan segera.

SDN Inpres Hulawa ini berlokasi di pusat Kecamatan Telaga berdekatan dengan Stadiun Olah Raga 23 Januari Telaga. Dari data banyaknya murid yang masuk ke sekolah ini dan mengingat lokasinya yang strategis di pusat kota, sekolah ini dapat dijadikan menjadi sekolah unggulan dalam penampungan anak usia SD untuk bersekolah, mencegah anak usia SD putus sekolah serta mencegah anak usia SD buta huruf atau buta aksara. Hal ini dalam rangka menunjang program yang dilakukan pemerintah untuk peningkatan SDM.

Mengantisipasi bertambahnya anak usia SD setiap tahun masuk ke sekolah ini, kalau tersedia anggaran sudah selayaknya sekolah ini dibangun dengan konstruksi 2 tingkat memiliki 12 ruang kelas. Komite Sekolah sangat bersyukur dan berterima kasih apabila ada pihak-pihak yang peduli terhadap pendidikan bersedia membiayai pembangunan sekolah ini, baik pihak pemerintah; Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo, Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo, Departemen Pendidikan Nasional maupun dari pihak masyarakat; perorangan, Ormas, LSM bahkan juga mungkin donator dari luar negeri.

Thursday, November 09, 2006

7 HAL AKTUAL MENJADI PR
GUBERNUR GORONTALO 2006 - 2011
Oleh : Ir. Yosef P. Koton,M.Si



Pada minggu kedua bulan Nopember 2006 ini, masyarakat di Provinsi Gorontalo kembali akan mendengarkan kampanye berupa penyampaian visi dan misi calon Gubernur Gorontalo masa jabatan 5 tahun kedepan 2006 – 2011. Sebagai bahan perenungan sejenak, masih ingatkah masyararakat bahwa pada tahun yang lalu 2005 kampanye yang sama pernah disampaikan oleh ke 3 Bupati; Gorontalo, Pohuwato dan Bone Bolango berupa visi dan misinya untuk memajukan daerahnya apabila terpilih kelak ? Apakah setelah 1 tahun kepemimpinannya ke 3 Bupati tersebut masih konsisten dengan apa yang disampaikannya pada masa kampanye 1 tahun yang lalu tersebut ? Apakah hal-hal yang sudah dikampanyekan para Bupati tersebut sudah dimasukan dalam RPJMD di ketiga Kabupaten tersebut, sehingga dengan transparan masyarakat dapat menilainya ?

Khusus untuk Bupati Gorontalo penulis masih ingat dalam kampanyenya menyampaikan dengan indikator yang dapat diukur akan menaikan harga jagung yang pada tahun 2005 harganya Rp 800,- / Kg menjadi Rp 1200,- / Kg. Dan hanya dalam 1 tahun kepemimpinannya Bupati Gorontalo berhasil merealisasikan apa yang sudah dikampanyekan 1 tahun yang lalu tersebut karena saat ini tahun 2006 harga jagung sudah mencapai Rp 1200,- / Kg, malahan ada yang sudah menginformasikan saat ini harga jagung sudah mencapai Rp 1700,- /Kg. Harga jagung ini agar terus dipertahankan untuk 4 tahun kedepan dan kalau memungkinkan harganya ditingkatkan lagi sehingga akan berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan petani jagung Untuk indikator terukur lainnya yang menjadi bahan kampanye Bupati Gorontalo penulis tidak mempunyai datanya sehingga tidak bisa menilainya. Kalau seandainya pada saat kampanye Bupati menyampaikan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka indikator terukur yang dapat dinilai adalah penurunan penduduk miskin di Kabupaten Gorontalo. Apakah dalam 1 tahun kepemimpinannya jumlah masyarakat miskin di Kabupaten Gorontalo sudah terjadi penurunan? Demikian pula dengan indikator lainnya apakah sudah terjadi penurunan angka pengangguran ? dan seterusnya. Demikian pula dengan ke 2 Kabupaten lainnya, Kabupaten Pohuwato dan Bone Bolango.

Dari uraian di atas, masyarakat di Provinsi Gorontalo sudah memiliki pengalaman dalam hal kampanye pemilihan Kepala Daerah secara langsung khususnya di ke 4 Kabupaten; yang belum berpengalaman adalah masyarakat di Kota Gorontalo. Sehingga dengan demikian sebagian besar masyarakat sudah sangat cerdas didalam menjatuhkan pilihan pada calon Gubernur yang dianggapnya mendekati aspirasi yang dinginkannya. Dalam kampanye nanti diharapkan calon Gubernur akan menyampaikan visi, misi dan programnya dengan indikator yang terukur sehingga masyarakat dapat mengontrol dan menilai keberhasilannya apabila calon Gubernur tersebut terpilih nantinya.

Terdapat antara lain ada 7 hal aktual di Provinsi Gorontalo yang menurut penulis memerlukan penyusunan program yang komprehensif dari para calon Gubernur untuk dituntaskan dalam 5 tahun ke depan yaitu sebagai berikut :

  1. Kemiskinan
    Menurut data BPS (2005), jumlah masyarakat Gorontalo yang miskin sebanyak 29,68 % dari total jumlah penduduk Provinsi Gorontalo atau sejumlah 282.272 orang. Masyarakat miskin inilah yang perlu penanganan yang komprehensif dengan program dan kegiatan yang langsung dapat mengentaskan masyarakat dari kemiskinan yang dideritanya. Program pusat yang selama ini dilaksanakan seperti; PKPS-BBM, BLT, P2KP, PDM-DKE nampaknya tidak berpengaruh nyata pada penurunan jumlah orang miskin di Provinsi Gorontalo. Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Gorontalo yang juga harus didukung pemerintah Kabupaten/ Kota perlu melakukan terobosan dengan program dan kegiatan yang langsung berdampak pada penurunan masyarakat miskin di Provinsi Gorontalo. Dengan program dan kegiatan pengentasan kemiskinan yang nyata dilapangan diharapkan dalam 5 tahun kedepan penduduk miskin di Provinsi Gorontalo akan sama dengan jumlah penduduk miskin secara nasional yang hanya sebesar 16,66 % dari jumlah penduduk Indonesia. Atau lebih rendah dari Provinsi Sulut yang jumlah penduduk miskinnya hanya sebanyak 24 % (Boroma, Suhendro, GP, 31 Agustus 2006).
  2. Angka Partisipasi Murni (APM) Jenjang pendidikan SLTP, SLTA dan PT
    APM jenjang pendidikan SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi (PT) sangat rendah, data tahun 2006 menunjukan APM SLTP hanya sebesar 55, 42 % ini berarti terdapat sebanyak 44,58 % anak berusia SLTP di Provinsi Gorontalo yang tidak melanjutkan pendidikannya ke SLTP. Sedangkan untuk SLTA data menunjukan APM nya hanya sebesar 36,46 % ini artinya anak berusia SLTA sebanyak 63,54 % tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan SLTA. Selanjutnya APM untuk Perguruan Tinggi penulis tidak punya datanya ada kemungkinan di bawah 10 %, kalau data ini benar berarti terdapat sebanyak 90 % anak berusia mahasiswa di Provinsi Gorontalo yang tidak melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi. Data ini menggambarkan kualitas SDM Provinsi Gorontalo saat ini dan yang akan datang, SDM yang diharapkan dan menentukan kemajuan Pembangunan Provinsi Gorontalo dimasa yang akan datang. Oleh karena itu untuk 5 tahun kedepan angka APM ini harus diupayakan untuk ditingkatkan. Pembangunan sekolah SLTP dan SLTA harus diperbanyak dan didekatkan dengan pemukiman siswa.
  3. Angka Kematian Ibu Melahirkan
    Data menunjukan pada tahun 2005, angka kematian ibu melahirkan di Provinsi Gorontalo sebesar 307 / 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih lebih tinggi dari target angka nasional sebesar 150 / 100.000 kelahiran hidup. Oleh karena itu perlu dilakukan terobosan program kesehatan dengan sasaran ibu yang hamil dengan pemberian obat-obatan, pemberian makanan yang bergizi, tenaga paramedis terjun langsung ke desa-desa memantau kesehatan ibu-ibu yang hamil, peningkatan peralatan medis, peningkatan SDM kesehatan dan seterusnya. Sejatinya program yang dibuat harus langsung pada sasaran di lapangan dan dilakukan secara terus menerus sampai tuntas, jangan hanya pasif menunggu dibelakang meja.
  4. Banjir
    Musibah banjir ini setiap musim hujan pasti akan melanda wilayah Provinsi Gorontalo. Banyak kerugian yang diderita akibat banjir ini baik yang dialami masyarakat maupun infrastruktur yang dibangun pemerintah. Banjir ini diakibatkan oleh gundulnya hutan dibagian hulu yang disebabkan oleh penebangan liar, ilegal loging, pengolahan tanah oleh peladang berpindah dengan melakukan pembakaran dan juga pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dibagian hilir tidak dilakukan dengan baik dan benar sesuai kaidah konservasi dan lingkungan serta kepedulian dan kompetensi aparatur kehutanan yang minim. Saat ini sudah 60 Ha Hutan lindung di Taman Nasional Bogani Nani Wartobone terbakar dilalap si jago merah (api) (GP, 9/10 - 2006) tetapi tidak ada yang mau peduli. Tunggulah kalau bulan Desember nanti turun hujan, pasti sungai Bone akan meluap (banjir). Dalam 5 tahun kedepan perlu upaya yang konkrit untuk mengatasi musibah banjir ini di Provinsi Gorontalo sehingga setiap tahun tidak akan terjadi lagi musibah banjir yang merugikan masyarakat.
  5. Anggaran Pembangunan
    Program yang sudah dibuat dengan bagus, bukan program pusat yang tidak sesuai dengan keadaan di lapangan dan programnya yang itu-itu jo serta tidak efektif.yang dirancamg dan dihayalkan oleh penyusun program dibelakang meja di Jakarta tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya di daerah. Program yang sesuai dengan kedaan lapangan tersebut disusun dalam suatu proposal untuk mendapatkan anggaran. Bagaimanapun bagusnya suatu program apabila tidak didukung oleh anggaran yang memadai sama saja dengan akal komeng. Sumber anggaran dari pemerintah pusat ada 4 yaitu yang pertama dari DAU. Anggaran ini tidak perlu dilakukan loby, karena ini dihitung berdasarkan rumus yang sudah jelas. Kalau ingin meningkatkan DAU maka antara lain indikator indeks pembangunan manusia dan PDRB perkapita yang harus diupayakan naik. Sumber anggaran yang kedua, ketiga dan keempat adalah berturut-turut adalah dari dana alokasi khusus (DAK), Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Besar kecilnya ketiga sumber anggaran ini diterima pemerintah daerah tergantung bagusnya program yang dibuat daerah dan loby untuk meyakinkan pemerintah pusat bahwa program tersebut sangat layak untuk dilaksanakan dan akan menjadi percontohan nasional. Saat ini anggaran dari ke 4 sumber anggaran pemerintah pusat tersebut di Provinsi Gorontalo yang tercatat adalah sebesar 2,83 Trilyun. Dalam 5 tahun yang akan datang anggaran ini perlu diupayakan peningkatannya setiap tahun.
  6. Pemadaman Listrik yang bergilir
    Anggaran APBN untuk subsidi listrik ini setiap tahun ditingkatkan, tetapi mengapa di Provinsi Gorontalo ada pemadaman bergilir ? Listrik ini tidak bisa dipisahkan dari kegiatan sehari-hari masyarakat. Bahkan sangat berpengaruh nyata terhadap masuknya investor ke Provinsi Gorontalo. Dengan masuknya investor maka akan menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat sehingga akan terjadi multiplier efek terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah. Dengan pemadaman listrik secara bergilir berarti kapasitas listrik saat ini tidak mencukupi lagi. Oleh karena itu dibutuhkan penambahan kapasitas listrik. Kalau listrik menggunakan bahan dasar BBM dan Solar terlalu mahal dan tidak dimampui PLN sudah selayaknya PLN menggunakan pembangkit nuklir yang sudah banyak digunakan diberbagai negara dimana biayanya lebih murah. Dengan listrik berbahan dasar nuklir ini Provinsi Gorontalo kembali akan menjadi percontohan dan pelopor penggunaan nuklir di Indonesia sebagaimana yang pernah direkomendasikan mantan Presiden B. J. Habibie untuk memecahkan permasalahan listrik di Indonesia.
  7. Pembangunan Kantor SKPD
    Satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) menjadi pelaksana dan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan program pemerintah daerah. Bagaimana mungkin kinerja SKPD akan maksimal kalau kantornya masih mengontrak rumah-rumah penduduk. Para pegawai yang bekerja didalamnya kepanasan karena ketiadaan AC, hingga kancing bajunya dibuka sampai dibawah tetapi tidak ada yang mau peduli. Tamu dari Departemen Pusat yang diharapkan dapat mengucurkan anggaran yang besar menjadi ragu-ragu apakah SKPD yang tidak memiliki kantor sendiri ini mampu melaksanakan program dengan anggaran yang besar ? Lihatlah apa yang dicontohkan instansi vertikal di daerah mereka membangun kantor sendiri dulu untuk memanjakan masyarakat dan tamu yang minta untuk dilayani yang berkunjung ke kantornya. Anggaran perjalanan dinas yang hanya dinikmati pribadi tertentu sudah selayaknya dialihkan untuk bangun kantor yang akan dinikmati oleh semua orang.


Demikianlah antara lainnya ada 7 hal aktual yang menurut penulis menjadi pekerjaan rumah (PR) Gubernur Gorontalo masa bhakti 2006 – 2011 yang didasarkan pada data dengan indikator yang terukur yang dapat dijadikan saringan, bahan pertimbangan pemilih untuk menilai materi kampanye yang akan disampaikan calon Gubernur kepada para pemilih. Pilihlah Gubernur yang menyampaikan programnya berdasarkan data dengan indikator yang terukur yang akan diupayakannya peningkatannya dalam 5 tahun yang akan datang. Misalnya berapa persen penurunan masyarakat miskin di Provinsi Gorontalo akan dicapainya dalam 5 tahun yang akan datang, berapa persen APM jenjang pendidikan SLTP, SLTA dan perguruan Tinggi (PT) akan dinaikannya dalam 5 tahun yang akan datang, berapa banyak jumlah ibu-ibu yang melahirkan akan dicegahnya dari kematian, upaya-upaya apa yang akan dilakukan supaya tidak terjadi banjir setiap tahun dan seterusnya. Kalau berkampanye harus didasarkan pada data dan dengan indikator yang terukur. Contohnya, lihat saja data kekayaan yang sudah disampaikan ke KPU, data kekayaannya terukur khan ? Setelah selesai menjabat data kekayaannya dilaporkan kembali untuk dinilai apakah kenaikannya wajar atau tidak. Jangan sampai hanya kekayaan yang naik, tetapi jumlah masyarakat miskin tidak turun-turun, APM tidak naik-naik, Ibu-ibu yang melahirkan banyak yang meninggal, setiap tahun terjadi banjir. Atiolo bo hali lo puasa mola pak Haji, dila hepo ngakali to tawu wau Eya. Elayi mola wanu mate diyaa udelolo.


Anggota AP3G
(Aktifis Pembentukan dan Pengawal Provinsi Gorontalo)
Memberi komentar? Alamat Web: yosefkoton.blogspot.com
Artikel ini Dimuat di Harian Gorontalo Post tanggal 25 - 28 Nopember 2006

Friday, September 22, 2006


AKU

Aku lahir di Gorontalo tepatnya di Desa Luhu Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo. Tanggal lahirku sama dengan tanggal terjadinya musibah Tsunami di Aceh yaitu pada tanggal 26 Desember 1965. Aku berdarah Indo begitu aku katakan pada orang yang baru mengenalku ketika dia bertanya Aku berasal dari mana ? 50 % darahku berasal dari Flores NTT karena Ayahku berasal dari sana dan 50 % lagi darahku berasal dari Gorontalo, karena Ibuku berasal dari Gorontalo.

Aku dalam kegiatan sehari-hari senang berolahraga seperti jalan dan lari pagi. 2 atau 3 kali dalam seminggu Aku jalan dan lari pagi sejauh _+ 3 Km berputar di jalan Desa tempat tinggalku. Waktu Aku remaja dulu Aku juga senang bermain catur. Pecatur di desaku Aku kalahkan, demikian juga dengan temanku saat Aku SMP, SMA, Perguruan Tinggi. E...Hampir lupa aku pernah menjadi Runner UP pada kejuaraan catur pada dies natalis Fakultas pertanian UNSRAT Manado tempat Aku menimba ilmu S1 dulu. Tetapi dalam usiaku yang mulai senja ini hobbyku bermain catur ini mulai tidak intensif seperti dulu lagi, hal ini disebabkan karena kesibukanku bergelut dengan pekerjaan juga karena waktuku tersita dengan urusan keluarga.

Selain olahraga catur aku juga senang berolahraga bulutangkis pada saat tidak ada kesibukan pada malam hari di lapangan bulutangkis mertuaku, Aku dan teman sekampungku rajin berlath dan bertanding bulutangkis. Kami sepakat membentuk klub bulutangkis yang diberi nama PB. Djarum Hulawa dan Aku didaulat menjadi ketuanya. Sudah beberapa kali kami mengadakan kejuaraan baik tingkat dusun, desa dan kecamatan. Klub kami lebih fokus pada pembinaan pada pebulutangkis usia dini, tetapi permasalahan yang kami hadapi adalah ketiadaan pelatih yang handal. Saat ini Aku juga termasuk dalam salah satu pengurus Pengcab PBSI Kabupaten Gorontalo.

Selain olahraga di atas Aku juga senang olah raga tenis meja. Aku kadangkala mewakili instansi tempat Aku bekerja apabila ada kejuaraan antar instansi. Di rumah Aku menyimpan betch apabila ada kesempatan untuk bermain pingpong ini pasti Aku tidak akan lewatkan, apalagi kalau ketemu lawan yang sepadan.

Olahraga lainnya yang Aku senangi adalah bola kaki. Pada saat Aku masih remaja dulu setiap sore hari di kampungku Aku bersama teman-teman sekampungku selalu memainkan si kulit bundar ini. Akibat hobbyku ini tanganku pernah terkilir dimana pada saat itu Aku sebagai striker sedang menggiring bola yang segera Aku akan tendang ke gawang lawan tetapi tiba-tiba lawanku menggaet kakiku dari belakang sehingga Aku terjatuh dan tanganku terkilir. Aku juga masih ingat Kami sering ke desa tetangga untuk bertanding dan beruji coba. Posisiku pada kesebelasanku kalau tidak sebagai striker, Aku biasanya bertindak sebagai stopper. Dari Hobbyku bermain bola ini, sampai dengan sekarang apabila Persigo bermain dikandang dalam kompetisi divisi I PSSI Aku pasti tidak akan melewatkan untuk menotonnya. Aku juga senang dan tidak pernah absen menonton pertandingan piala dunia bola kaki. Aku rela mengantuk, tengah malam bangun untuk menontonnya lewat siaran TV. Demikian juga dengan siaran langsung Liga Inggris, Italia, Spanyol. Jerman dan lain-lain Aku menikmatinya lewat siaran TV.

Disamping berolahraga Aku juga senang membaca. Buku, majalah dan apa saja setiap Aku mempunyai waktu luang Aku membacanya. Bahan bacaanku terutama yang berhubungan dengan latar belakang pendidikanku. Juga Aku senang membaca buku kesusteraan. Koran, setiap hari sebelum aku berangkat kerja sudah Aku baca. Kegemaranku membaca ini membuat Aku selalu menjadi bintang kelas pada saat Aku masih sekolah dulu.

Aku juga senang menulis. Sudah banyak tulisan artikelku dimuat di Harian Gorontalo. Sekarang tulisan artikel tersebut Aku masukkan dalam Website ku sehingga yang mengklik Web ku ini dapat membacanya. Masih ada beberapa tulisan artikelku yang belum Aku masukkan ke Webku karena filenya sampai dengan sekarang belum Aku temukan di komputer. Menyesal Aku tidak sempat memprint outnya pada saat artikel tersebut Aku buat.

Aku juga senang berkebun. Halaman rumahku Aku tanami dengan tanaman hias. Pot yang kutanami dengan bunga-bungaan selalu kusiram dan ku pupuk agar tumbuh dengan subur. Setiap ada waktu luang Aku membersihkan tanaman yang Aku tanam dari tumbuhan penggangu.. Di belakang halaman rumahku Aku juga memelihara Ayam buras. Telur dan Ayamnya kalau sudah banyak Aku jual ke pasar. Hasilnya lumayan sebagai tambahan uang belanjaan isteriku.

Thursday, September 21, 2006


ISTERI

Isteriku yang berdiri tersenyum dekat Anak sulungku, Aku nikahi 11 tahun yang lalu. Isteriku sudah memberikan Aku 2 (dua) orang anak (putera).
Isteriku mempunyai hobby memasak, kalau ada resep baru dia rajin mencatat dan mencobanya.
Isteriku rajin membersihkan rumah setiap hari, tidak berapa lama peralatan rumah tangga sudah berpindah tempatnya.
Isteriku peramah, tetapi tidak bisa dibuat marah, kalau lagi marah, Aku dan Anakku ketakutan

Friday, September 15, 2006




AYAH

Ayahku yang dalam foto ini berdiri disebelah anak sulungku, saat ini sudah berusia 71 Tahun tapi masih kelihatan segar bugar. Dalam usianya yang lansia, beliau masih kuat bekerja di sawah. Aku, Ibu, kakak dan adik-adiku sudah melarang tapi beliau mengatakan kalau tidak ke sawah badannya terasa sakit-sakitan.

Ayahku, dalam usia remaja sudah merantau, meninggalkan kampung halamannya, Tanjung Bunga (Flores Timur) Nusa Tenggara Timur. Daerah yang menjadi tujuan perantauannya yang pertama adalah kota Makassar. Beberapa tahun Ayahku mengadu nasib di daerah ini. Menurut Ayahku pada saat itu terjadi pemborontakan Abdul Azis, hal ni berimbas pada kehidupan yang serba sulit dialami para perantau khususnya dari NTT.

Pada tahun 1958 terjadi pemborontakan Permesta di Gorontalo, Ayahku yang sudah bergabung dengan tentara Brawijaya (Pusat) dikirimkan ke Gorontalo untuk memerangi pemborontakan tersebut. Menurut Ayahku beliau saat itu ditugaskan menjadi Ajudannya Bapak Piola Isa. Banyak tentara Permesta yang dibunuh pada saat itu, kenangnya.

Pada saat bertugas di Gorontalo inilah, Ayahku mempersunting gadis asli daerah Gorontalo, Ibuku. Pada waktu Ayahku ditugaskan ke daerah yang lain, Ibuku tidak berkenan, sehingga Ayahku mengundurkan diri dan masuk menjadi PNS di Kota Gorontalo. Setelah pensiun dari PNS Ayahku menikmati hari tuanya bercengkrama dengan 12 orang cucunya.

Thursday, September 14, 2006




ANAK

Foto ini aku yang memotretnya pada tanggal 12 September 2006, tetapi aku tidak menyetel kameranya sehingga yang muncul dalam Foto adalah tahun 2003.

Pada tanggal 12 September 2006, sehari sesudah peringatan pemboman menara kembar di Amerika Serikat, Anakku yang sulung, Nurwan (Arif) disunat. Acara sunatannya dilaksanakan secara sederhana dirumah neneknya di sebelah rumahku.

Pada sunatan tersebut anakku Arif memakai pakaian adat Gorontalo dengan hiasan pernik-pernik di tempat duduknya. Sebelum disunat dilakukan pembinaan oleh Pak Imam mesdjid tentang pengetahuan agama, agar Arif dalam tingkah lakunya sehari-hari mengikuti seperti apa yang diperintahkan dalam ajaran agama.

Arif termasuk anak yang tahan sakit, waktu disunat dia tidak menangis. Dia tidak kelihatan takut. Kata yang keluar hanya menanyakan " Sudah Om "? Pak Mantri yang menyunatnya dipanggilnya Om. Orang disekitarnya termasuk aku tersenyum.

Teman-temanku menanyakan kenapa ada acara sunatan tidak mengundang mereka ? Aku menjawab nanti akan dibuat perayaannya secara kecil-kecilan dan mereka akan diundang.

Pada foto tersebut juga nampak anakku yang bungsu, namanya Nursan (Sendy). Lihat senyumnya sangat menggemaskan. Moga-moga kedua anakku ini menjadi orang yang berguna bagi daerah, bangsa dan agamanya.

Monday, September 11, 2006


SELAMAT JALAN PAK TURSANDI
Oleh : Yosef P. Koton

Sehari sebelum dilantiknya Penjabat Gubernur Tursandi Alwi, tanggal 15 Pebruari 2001 tulisan opini penulis berjudul Matoduwolo Penjabat Gubernur Gorontalo dimuat di Harian Gorontalo. Berdasarkan tulisan opini tersebut, maka penulis merasa terbebani untuk menulis lagi sebagai ucapan perpisahan dengan Gubernur pertama Gorontalo, walapun didepan kata Gubernur ditambahkan kata penjabat tetapi substansinya beda-beda tipis dengan Gubernur definitif.

Setelah dilantik, Pak Tursandi ke Gorontalo yang bersamaan dengan itu pula Gorontalo sedang dilanda musibah banjir, sehingga nama Tursandi diplesetkan menjadi Torsandung aer. Kata orang-orang tua saat itu hal ini menandakan Tursandi yang akan menjadi Khalifah di Gorontalo ini bertangan dingin. Kata Orang-orang tua di Gorontalo ini, kelak setelah tugas Tursandi berakhir memang benar-benar terbukti.

Tursandi yang bertangan dingin telah berhasil melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya tanpa menimbulkan gejolak-gejolak dan penentangan yang berarti dari masyarakat. Tursandi tanpa neko-neko berhasil menyelesaikan tugasnya sesuai aturan dan norma-norma standar yang sudah ditetapkan. Keberhasilan ini disebabkan karena Tursandi dapat mengendalikan dirinya yang mungkin bagi pemimpin lainnya agak susah untuk dilakukan yaitu interest pribadi, golongan tertentu dan berdiri ditengah-tengah tanpa ada pemihakan. Dengan demikian Tursandi telah membuktikan bahwa dirinya benar-benar sebagai fasilitator yang ulung.

Keberhasilan dan tugas-tugas Tursandi yang dapat diselesaikan dengan baik untuk percepatan pembangunan di Provinsi Gorontalo dalam waktu yang singkat antara lainnya yang dapat disebutkan adalah tertatanya dan berfungsinya perangkat pemerintah daerah, terbentuknya DPRD Provinsi Gorontalo, tersusun dan terlaksananya APBD Provinsi Gorontalo tahun anggaran 2001, terbentuknya lambang Provinsi Gorontalo, tersusunnya draft Pola Dasar Pembangunan Provinsi Gorontalo, tersosialisasinya keberadaan Provinsi Gorontalo dengan tersusunnya Profil Provinsi Gorontalo, potensi dan peluang investasinya yang dinilai sebagai presentase terbaik pada acara Governor’s Forum, Agro dan Expo 2001 di Jakarta sehingga dimintakan untuk dikirimkan ke seluruh Provinsi di Indonesia, berfungsinya penggunaan transportasi Udara dengan Merpati dan Bouraq, berfungsinya penggunaan transpotasi laut dengan kapal peti kemas serta terpilihnya Gubernur definitif yang pertama.

Keberhasilan Tursandi ini dicapai tidak semudah membalik telapak tangan tetapi melalui proses perjuangan dan kerja yang keras. Bandingkan dengan Provinsi terbaru lainnya; Bangka Belitung, Banten dan Maluku Utara. Keberhasilan Tursandi juga karena adanya dukungan dari seluruh masyarakat Gorontalo yang terkenal sebagai masyarakat yang beradat dengan prinsip; Adat bersedi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah, masyarakatnya yang taat dan menurut kepada Khalifah yang memimpinnya. Keberhasilan Tursandi ini disamping dukungan dari masyarakat juga karena faktor Tursandi sendiri yang mempunyai jaringan kerja dan hubungan yang luas di Jakarta. Selain itu pula informasi dari Jakarta dengan cepat disampaikan ke Gorontalo.

Tursandi telah berhasil mengantarkan Provinsi terbungsu ini pada gerbang pemerintahan yang definitif, meletakan pondasi yang kokoh yang standar dalam waktu yang singkat untuk dilanjutkan oleh pemerintahan yang definitif. Tursandi merupakan rahmat yang patut disyukuri keberadaannya untuk percepatan pembangunan di Provinsi Gorontalo. Nama Tursandi telah tercatat dalam sejarah Provinsi Gorontalo yang akan selalu dikenang dan tak akan pernah terlupakan oleh masyarakat Gorontalo. Nama Tursandi akan semakin tersanjung bila kelak dikemudian hari cita-cita awal pembentukan Provinsi Gorontalo ini terwujud dengan sukses. Oleh karenanya bantuan dan dukungan Pak Tursandi dari Jakarta masih sangat dibutuhkan walaupun tidak menjabat lagi sebagai Gubernur.

Keberhasilan mewujudkan cita-cita awal pembentukan Provinsi Gorontalo perjalanannya yang harus dilewati masih sangat panjang. Karena jalan yang akan ditempuh belum pernah dilewati sebelumnya maka jalan yang ditemui tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya; lurus, berliku-liku, mendaki, menurun, licin, berlubang-lubang, berbatu-batu, berlumpur, disebelah kiri jalan ada gunung, disebelah kanan ada jurang. Yang kesemuanya itu merupakan hambatan, rintangan dan tantangan yang harus ditempuh dan dilewati sehingga selamat sampai ke tujuan mencapai cita-cita yang mulia pembentukan Provinsi Gorontalo. Oleh karena itu semangat, kemampuan, kinerja dan profil seperti Tursandi kedepan masih sangat dibutuhkan untuk memimpin Provinsi Gorontalo sehingga dengan segera dapat mencapai Gorontalo yang maju dan mandiri.

Terima kasih Pak Tursandi, selamat jalan, doa kami bersamamu, berkah dan sukses menyertaimu.

Matoduwolo Gubernur Definitif

Dengan terpilihnya Ir. Fadel Muhammad sebagai Gubernur yang kedua atau Gubernur definitif yang pertama di Provinsi Gorontalo, maka Provinsi Gorontalo terbungsu ini memasuki era baru dalam langkah pastinya mewujudkan cita-cita awal pembentukan Provinsi ini. Harapan untuk meraih kemajuan dan kesuksesan lima tahun ke depan diletakan di pundak Pak Fadel Muhammad dan Pak Gusnar Ismail. Keduanya berlatar belakang sarjana teknis, yang satunya alumnus sarjana Teknik ITB dari Pulau Jawa dikenal sebagai pengusaha dan yang satunya alumnus sarjana pertanian UNSRAT Manado dikenal sebagi Birokrat. Dilihat dari latar belakang kesarjanaan, pekerjaan, tempat tinggal sebelumnya yang dihubungkan dengan usia keduanya yang relatif muda, energik dan kebutuhan daerah maka pasangan ini secara kasat mata sungguh sangat padu dan serasi.

Masalah kepailitan dan kurang berkontribusinya Pak Fadel pada saat perjuangan pembentukan Provinsi Gorontalo janganlah menjadi hambatan untuk mendukung Gubernur definitif yang pertama ini. Masih banyak nilai positif lainnya yang dimiliki Pak Fadel yang dapat mensukseskan kepemimpinanya lima tahun kedepan. Antara lainnya yang dapat disebutkan adalah kedekatannya dengan Ketua DPR RI, Ir. Akbar Tanjung dan Menko Kesejahteraan Rakyat, Yusuf Kalla dan pengusaha sukses lainnya. Kepailitan dan kurang berkontribusinya pada saat perjuangan pembentukan Provinsi Gorontalo kiranya menjadi cambuk bagi Pak Fadel untuk meningkatkan kinerjanya dalam pengabdiannya untuk mencapai hasil yang terbaik bagi Provinsi terbungsu ini.

Pengembangan dan perluasan landasan lapangan udara Jalaluddin, peningkatan pembangunan pelabuhan Anggrek dan pelabuhan Kota Gorontalo, pembangunan pelabuhan Peti Kemas, pembangunan waduk Dumbaya Bulan dan pengubahan status IKIP Gorontalo menjadi Universitas merupakan kebutuhan dasar yang sudah diidentifikasi Pak Fadel dengan tepat untuk segera direalisasikan pada tahun-tahun awal kepemimpinannya.

Program peningkatan dan pengembangan pertanian dimana terdapat lahan kering seluas 312.138,81 Ha (73 %) yang belum dimanfaatkan, disamping itu sebanyak 57 % penduduk Provinsi Gorontalo bermata pencaharian pertanian sangat efektif untuk diberdayakan dalam rangka peningkatan PDRB, kesejahteraan masyarakat dan kemajuan pembangunan daerah. Demikian pula dengan program peningkatan dan pengembangan perikanan dimana potensi produksi yang belum dimanfaatkan sebanyak 75,95 %. Peningkatan dan pengembangan kedua sektor pembangunan ini sangat berpengaruh nyata bagi kemajuan dan kemandirian Provinsi Gorontalo kedepan dan Pak Fadel sudah berkomitmen untuk memprioritaskannya.

Matoduwolo, selamat bekerja, semoga sukses.

Pemerhati Pembangunan
Tinggal di Desa Luhu, Kec. Telaga, Kab. Gorontalo

Artikel ini dimuat tahun 2001 di Harian Gorontalo Post